Beberapa pekan jelang menikah, saya yang kala itu masih berusia 22 tahun, berguru pada ibu. Apa yang perlu dilakukan agar pernikahan berjalan damai? Ibu menjawab tanpa berpikir panjang. Seolah pertanyaan yang saya ajukan se sepele resep sayur lodeh. “Nikah ki yo anggere wani ngalah..” (Nikah itu pokoknya berani mengalah) Dua kata yang menggedor batin saya: