Agar Ibadah Kita Diterima

Para pembaca yang dirahmati Allah, satu hal yang telah kita ketahui bersama bahwa manusia berada di muka bumi ini bukan tanpa tujuan. Allah menciptakan mereka untuk satu tujuan mulia yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukanNya. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ    ۝

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Q.S. Adz-Dzariyat 51:56).

Karenanya, kita perlu memperhatikan dengan sebaik-baiknya perkara ibadah ini, bagaimana agar ibadah tersebut diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’la.

Dua Syarat Agar Ibadah Diterima

Berdasarkan dalil-dalil yang ada dalam Al Quran dan Hadits, para ulama menjabarkan bahwa ibadah seorang muslim akan diterima oleh Allah Ta’ala jika memenuhi 2 syarat:

Syarat pertama: Ibadah tersebut dikerjakan dengan ikhlas

Apa makna ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas? Yaitu ibadah yang dilakukan hanya mengharapkan Allah semata dan tidak tercampur dengan kesyirikan dan tujuan-tujuan lain selain Allah semata. Mengingat firman Allah,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ۝

“Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (Q.S. Al-Bayyinah 98:5).

Maka amalan yang dilakukan tanpa keikhlasan tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Misalnya amalan ibadah yang tujuannya bukan karena Allah Ta’ala karena ingin dilihat atau didengar manusia. Atau bahkan amalan yang dilakukan bukan kepada Allah seperti menyembelih untuk syaitan, shalat untuk kesaktian, dan lain-lain. Bahkan yang seperti ini bisa membuat pelakunya menjadi seorang musyrik yang akan kekal di neraka, wal’iyadzubillah. Allah berfirman dalam hadits Qudsi,

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku tak butuh sekutu dengan sekutu-sekutu. Siapa yang beramal dengan mempersekutukanku dengan selainKu, Aku kan tinggalkan dia bersama sekutu-sekutunya” (HR Muslim no. 2985)

Syarat kedua, Ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam

Ibadah yang tidak sesuai tuntunan Nabi maka tertolak. Misal jika ada seseorang yang shalat subuh 3 rakaat, maka sholatnya tidak sah dan tertolak walaupun jumlah rakaatnya lebih banyak. Jika ada orang yang puasa di hari raya Idul Fitri, maka puasanya tidak sah dan tertolak. Maka amalan ibadah harus dikerjakan sesuai tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengingat sabda Nabi,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang beramal ibadah yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak” (HR Muslim no. 1718)

Kedua syarat ini harus ada sekaligus dalam sebuah amal ibadah. Shalat yang diterima adalah shalat yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi. Puasa yang diterima adalah puasa yang ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi. Zakat yang diterima adalah zakat yang ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi dan seterusnya. Shalat yang ikhlas, tapi tidak sesuai tuntunan Nabi, maka tidak diterima. Demikian juga, puasa yang sesuai tuntunan Nabi tapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka tidak diterima.

Bagaimana Agar Amal Ibadah Bisa Ikhlas?

Tersisa sebuah pertanyaan, bagaimana agar kita beribadah dengan ikhlas kepada Allah? Perlu diketahui bahwa masalah keikhlasan ini masalah hati. Hati setiap insan berada di antara jari jemari Ar Rahman, Allah bolak-balik hati tersebut sekehendakNya. Karenanya, untuk menjadikan hati yang ikhlas dibutuhkan doa kepada Allah agar Dia senantiasa menetapkan hati kita di atas keikhlasan. Di antara doa yang bisa dipanjatkan yang diajarkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ

“YA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QULUUBANAA ‘ALA DIINIK” (Wahai Zat Yang membolak-balikan hati, tetapkan hati kami di atas agamaMu) (HR. Ahmad no. 17630 dan Ibnu Majah no. 199)

Jangan pernah jemu berdoa dan memohon kepada Allah agar Allah jadikan hati kita ini senantiasa ikhlas dan kita bisa menghadap Allah di akhirat kelak dengan hati yang ikhlas ini.

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ۝إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ۝

“Pada hari tidak bermanfaat harta & keturunan, kecuali yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat” (Q.S. Asy-Syu’ara: 88, 89)

Bagaimana Agar Amal Ibadah Bisa Sesuai Tuntunan?

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar amal ibadah kita bisa sesuai tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga diterima oleh Allah? Jawabannya adalah dengan mempelajari agama ini dengan benar sehingga kita mendapatkan pemahaman yang benar tentang amal ibadah yang kita lakukan.

Jika mendapatkan ikhlas adalah masalah hati, maka mendapatkan amal ibadah yang sesuai tuntunan Nabi adalah masalah ilmu dan pemahaman. Ilmu dan pemahaman ini tentunya didapatkan dengan duduk dan belajar tentang agama. Oleh karena itu, Nabi mewajibkan setiap muslim untuk mempelajari agamanya. Beliau bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِفَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap orang Islam” (HR Ibnu Majah no. 224)

Maka jangan malu dan jangan malas untuk belajar agama, karena itulah kunci kebahagiaan dalam kehidupan kita di dunia dan akhirat.

Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang senantiasa ikhlas dan pemahaman agama yang benar sehingga kita bisa beramal dengan amal ibadah yang diterima Allah. Amiin ya mujibbasaailiin.

Ditulis Oleh:
Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

Sumber: https://bimbinganislam.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *